Saya tahu anda tidak tahu, saya kasih tahu
Anda tahu saya tidak tahu, anda kasih tahu
Saya tahu anda tahu, kita sama-sama tahu
Saya tidak tahu anda juga tidak tahu, sama-sama kita cari tahu
A. Pendahuluan
Kemampuan seorang pelatih untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam suatu
kegiatan latihan, sepintas lalu nampaknya tidak penting. Padahal, sesungguhnya
justru itulah keterampilan yang sangat penting dan mutlak harus dikuasai oleh
seorang instruktur. Nalarnya jelas, karena hakekat dari fungsi dan peran
seorang instruktur dalam konsep pelatihan orang dewasa adalah juga sebagai
fasilitator.
Tidak
jarang ditemukan dan ini merupakan kelemahan umum yang ditemui dalam banyak
kegiatan latihan, proses belajar menjadi mandeg atau bahkan “salah arah” hanya
karena instruktur mengajukan pertanyaan yang tidak tepat pada saat dan cara
yang tidak tepat pula. Di kalangan banyak instruktur pemula, bahkan terlalu
sering ditemukan mereka yang jadi bingun dan gerogi di depan kelas karena
“kehabisan perbendaharaan kata-kata untuk bertanya”.
Dalam
keadaan “panik dan bingung” seperti itu, biasanya mereka secara gampang saja
langsung menyimpulkan pengalaman belajar para peserta, tentu saja menurut
persepsinya sendiri, maka jadilan penilaian dan persepsi yang sangat subjektif.
Teknik
bertanya dalam suatu kegiatan atau proses latihan, sebenarnya sederhana saja,
yang terpenting adalah kesadaran untuk tetap taat asas pada prinsip latihan dan
andragogi. Bahkan, tak ada salahnya bagi seorang instruktur untuk mengakui saja
tidak tahu (atau berpura-pura tidak tahu) tentang suatu hal yang dipertanyakan
oleh peserta dan melemparkan kembali pertanyaan tersebut untuk dijawab oleh
peserta lainnya, demi memberi kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan
pendapat dan pengalaman mereka sendiri. Ini yang prinsip.
B. Hal-hal Teknis
1. Usahakan
agar pertanyaan diajukan secara singkat dan jelas, jika perlu ulangi sekali
lagi atau dua kali sampai jelas benar, terutama jika pertanyaan itu ditujukan
pada salah seorang peserta.
2. Namun
jangan sampai pertanyaan semacam itu justru menjadikan peserta “gelagapan” atau
gugup menjawabnya, dan karenanya hindari pertanyaan tendensius dan gaya
bertanya menghakini (pelatih bukan interogator) kecuali pada kasus-kasus
pelanggaran norma dan tata tertib.
3. Dalam
meneruskan sebuah pertanyaan dari seorang peserta ke peserta lainnya, hindari
jangan sampai terjadi antara peserta yang bersangkutan malah terjadi “perang
tanding” (berdebat langsung di luar kendali instruktur).
4. Jika
perlu, pertanyaan dari seorang peserta dikembalikan kepadanya lagi dengan
pertanyaan balik seperti : “menurut anda sendiri bagaimana ?” (agar ia sendiri
mau berfikir dan tidak menganggap instruktur sebagai orang yang tidak tahu
segalanya).
5. Dan
beberapa hal lainnya lagi yang hanya bisa difahami setelah mengalami sendiri
bagaimana pemandu sebuah kegiatan latihan, sesuai kondisi dan situasi yang ada.
Ada beberapa hal yang lebih teknis lagi sebagai pedoman, bentuk-bentuk atau
jenis pertanyaan dasar yang paling sering digunakan dalam kegiatan latihan
selama ini, antara lain sebagai berikut :
1. Pertanyaan
Ingatan
“Dimana anda mengalami …………………………………..?”
“Kapan hal itu terjadi ……………………………………….?”
“Apakah hal semacam ini pernah terjadi pada
anda ………..?”
“Dengan mengalami ini, apakah bisa dikaitkan
dengan
pengalaman anda sebenarnya ……………………………...?”
2. Pertanyaan
Pengamatan
“Apa yang sedang terjadi ?”
“Apakah anda telah melihatnya ?”
3. Pertanyaan
Analitik (Urai Sebab-Akibat)
“Mengapa perbedaan pendapat itu terjadi ?”
“Bagaimana akibat kegiatan ini terhadap
perilaku kelompok ?”
4. Pertanyaan
Hipotetik (Memancing Praduga)
“Apa yang akan terjadi jika …………………………………..?”
“Coba ramalkan apa akibatnya andaikata
……………………?”
5. Pertanyaan
Pembanding
“Siapakah dalam hal ini yang benar ?”
“Mana yang anda anggap paling tepat antara
……..dan …….?”
6. Pertanyaan
Proyektif (Mengungkap ke Depan)
“Bayangkan jika anda menghadapi situasi
seperti itu,
apakah yang akan anda lakukan ?”
7. Pertanyaan
Tertutup (Menjurus ke Suatu Jawaban Tertentu)
“Kita sebagai pelatih harus selalu melemparkan
pertanyaan
yang tidak menjurus, ya kan ?”
Seperti
terlihat jelas pada contoh-contoh pertanyaan di atas, jelas sekali bahwa apapun
bentuk atau jenis pertanyaannya, semuanya tetap bertolak dari “kata-kata kunci”
pertanyaan yang peling pokok yaitu :
APA ……………………………?
SIAPA ………………………….?
DIMANA ………………………?
KAPAN
…………………………?
BAGAIMANA …………………?
MENGAPA …………………….?
·
Kata-kata
“apa”, “siapa”, “dimana”, dan “kapan” adalah kata tanya untuk mengungkapkan
fakta.
·
Kata
kunci “bagaimana” adalah kata tanya untuk mengungkapkan baik fakta maupun
pendapat (opini).
·
Kata
kunci “mengapa” adalah kata tanya untuk mengungkapkan pendapat. Atas dasar ini
menjadi gampang jika ingin diterapkan dalam kegiatan latihan.
·
Kata-kata
kunci “apa”, “siapa”, “dimana”, dan “kapan” lebih digunakan pada pertanyaan
tahap mengungkapkan dalam proses daur belajar pengalaman berstruktur karena
tahap ini memang bermaksud mengungkap apa yang “senyatanya terjadi atau
dilakukan oleh peserta”.
·
Kata
kunci “bagaimana” juga dapat digunakan pada proses ini dan proses menganalisa
maupun menyimpulkan, tapi kata kunci “mengapa” lebih digunakan pada tahap
menganalisa dan menyimpulkan saja, karena tahap ini memang sudah dimaksudkan
untuk meminta pendapat peserta.
·
Dikaitkan
dengan bentuk atau jenis pertanyaan tadi, dapat dikatakan bahwa jenis
pertanyaan “ingatan” dan “pengamatan” lebih digunakan pada tahap mengungkapkan.
Jenis pertanyaan “analitik”, “hipotetik”, dan “permbandingan”, lebih digunakan
pada tahap menganalisa, sementara jenis pertanyaan “proyektif” lebih banyak
digunakan pada tahap menyimpulkan. Adapun jenis pertanyaan “tertutup” lebih digunakan
pada saat instruktur akan menegaskan kembali kesimpulan peserta di akhir
kegiatan latihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar