Senin, 07 Mei 2012

Berorganisasi


Banyak orang kepingin menjadi pahlawan besar penuh dengan tanda jasa di pundaknya. tetapi ia tdk tau bagaimana harus memulainya.

Jika kita sepakat bahwa hidup kita semestinya memiliki kemanfaatan bagi khalayak, mengapa hrs pusing dengan perbuatan apa yang hrs di lakukan ?

Berorganisasi itu bukan hanya sekedar menggarap sebuah kegiatan yang bersifat " EVENTUALLY " alias kegiatan seremoni, penuh basa basi, agar nampak atau di lihat org dll.

Tetapi menggali potensi diri dan potensi lingkungan itulah kegiatan yang real dalam rangka mendewasakan pemikiran, sikap. Itulah maksud berorganisasi yang sesungguhnya. 

Minggu, 06 Mei 2012

FOTO PROFIL




SD GIRITIRTA

DENGAN MENERAPKAN MBS,
TERWUJUDLAH SEBUAH PERUBAHAN


  • MBS MEMANG BUKAN SATU-SATUNYA CARA UNTUK MENNGKAT MUTU PENDIDIKAN, NAMUN IBARAT SEBUAH OBAT, MBS ADALAH OBAT MUJARAB YANG MAMPU MEMBANGKITKAN SEMANGAT BARU.
  • JIKA KETIGA PILAR MBS (MANAJEMEN SEKOLAH, PAKEM & PSM ) BISA BERJALAN DENGAN SEIMBANG DAN KOMPAK SESUAI DENGAN TUGAS MASING-MASING, MAKA DALAM WAKTU YANG TIDAK LAMA, PERUBAHAN AKAN BISA DIRASAKAN.  
  • MAKA APABILA SUDAH MENERAPKAN PROGRAM RINTISAN MBS TAPI KUALITAS PENDIDIKAN TIDAK MENINGKAT, BERARTI ADA YANG TIDAK BERES DENGAN SALAH SATU DARI KETIGA PILAR MBS.

Jumat, 04 Mei 2012

RAHASIA SEGITIGA SIKU-SIKU




TOT RBM BANJARNEGARA




ALAT BERMAIN MATEMATIKA


ALAT BERMAIN MATEMATIKA


BILANGAN ISTIMEWA


Matematika Kreatif


Cara Bermain :
Pindahkan satu batang korek api agar kalimat matematika ini menjadi benar.

Rabu, 25 April 2012

DISKUSI JOURNALIST GATHERING



MISTER M YUSUF
Ketua Komite Sekolah SD Negeri Giritirta
Menjadi Nara Sumber pada Acara Diskusi Journalist Gathering 
di Hotel Horison Semarang,  yang diselenggarakan oleh : 
Lembaga Studi Pers dan Informasi (Lespi), BIKK Provinsi Jawa Tenagah, dan Unicef, Rabu (21 Nopember 2007)

Kamis, 19 April 2012

ICE BREAKING DAN ORIENTASI

A.     Pendahuluan

Sudah menjadi kebiasaan di setiap pelatihan, ketika memulai melaksanakan sebuah training (latihan) terlebih dahulu dimulai suatu segmen peleburan dan pendahuluan yang kemudian dikenal dengan “Ice Breaking dan Orientasi”.
Secara sederhana kedua istilah ini tidak dapat dipisahkan secara jelas, keduanya ibarat dua mata uang logam yang menyatu pada satu kesatuan arti dan mempunyai makna yang sangat signifikan terhadap kesuksesan  dan tercapainya target sebuah pelatihan. Dengan kata lain tak heran bila orientasi dan ice breaking menjadi momok yang selalu dibicarakan di antara pengelola training sebagai penentu kesuksesan pelatihan di hari-hari berikutnya.
Pada tulisan yang singkat ini, untuk menjelaskan secara detail mengenai ice breaking dan orientasi, penulis sengaja memisahkan antara dua istilah ini. Hal ini bukan dimaksudkan untuk memisahkan makna keduanya, tapi hanya sekedar sistematisnya pembahasan.

B.     Ice Breaking
1. Pengertian
           Ice Breaking adalah padanan dua kata Inggris yang mengandung makna “memecah es”. Istilah ini      sering dipakai dalam training dengan maksud menghilangkan kebekuan-kebekuan di antara peserta latihan, sehingga mereka saling mengenal, mengerti dan bisa saling berinteraksi dengan baik antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dimungkinkan karena perbedaan status, usia, pekerjaan, penghasilan, jabatan dan sebagainya akan menyebabkan terjadinya dinding pemisah antara peserta yang satu dengan yang lainnya. untuk melebur dinding-dinding penghambat tersebut, diperlukan sebuah proses ice breaking.
2. Tujuan
Tujuan dilaksanakan ice breaking ini adalah :
a.    Terciptanya kondisi-kondisi yang equal (setarap) antara sesama peserta dalam forum training.
b.    Menghilangkan sekat-sekat pembatas di antara peserta, sehingga tidak ada lagi anggapan si anu pintar, si anu bodoh, si anu kaya, si anu bos dan lain sebagainya, yang ada hanyalah kesamaan kesempatan untuk maju.
c.    Terciptanya kondisi yang dinamis di antara peserta
d.    Menimbulkan kegairahan (motivasi) antara sesama peserta untuk melakukan aktivitas selama training berlangsung.
3. Metode
Banyak metode yang dapat dilakukan dalam ice breaking ini, di antaranya :
a.    Metode Ceramah, pelatih melakukan terlebih dahulu ceramah pembuka yang pada hakikatnya menjelaskan tentang beberapa hal, antara lain : pentingnya kesatuan dalam suatu komunitas, persamaan hak di antara sesama peserta, perlakukan yang sama,  tim building, kesadaran potensi, kerjasama antar kelompok dll.
b.    Metode Studi Kasus, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta untuk ikut andil memecahkan persoalan-persoalan praktis sehari-hari yang ditawarkan oleh pelatih, tujuannya adalah ;
-       Untuk melihat potensi awal yang dimiliki masing-masing peserta baik dari segi afektif, kognitif maupun psikomotornya.
-       Membiasakan peserta untuk berinteraksi dengan kelompoknya yang baru, dengan bertanya, menanggapi atau mengamati peserta lain.
-       Memberikan pengertian bahwa sejak hari itu mereka akan menjadi sebuah keluarga (sanak famili) sampai kapanpun.
c.    Metode Sinetik, yaitu sebuah metode pengembangan sumbang saran, dimana dalam suatu pemecahan masalah dipadukan berbagai pendapat dari berbagai disiplin ilmu sehingga memunculkan solusi yang lebih kreatif terhadap persoalan yang muncul.
d.    Metode Lorong Penuh Liku, metode ini dimulai dari membaca beberapa halaman dari buku, kemudian dipaksa untuk membuat keputusan. Berdasarkan keputusan itu peserta diinstruksikan untuk membuka pada suatu halaman tertentu yang telah disusun secara acak. Kemudian diberikan sebuah skenario yang berdasarkan keputusan yang telah dibuat dan keputusan lebih lanjut akan mengirim anda ke halaman muka atau halaman-halaman belakang dari buku, sampai akhirnya peserta keluar dari lorong-lorong tersebut, mungkin setelah melakukan beberapa langkah-langkah yang salah. (untuk penggunaan teknik ini, pelatih harus terlebih dahulu mempersiapkan bahan-bahannya).
e.    Metode Simulasi dan Permainan, metode ini merupakan metode yang paling mudah dilakukan, pelatih mempersiapkan beberapa permainan yang bertujuan untuk memecah kebekuan (ice breaking games) peserta. Permainan ini banyak sekali bentuknya, di antaranya adalah ; permainan lempar kokarde, pesan berantai, ziq-zaq dan lain-lain. Tujuan simulasi ini adalah :
-    Terciptanya keakraban di antara peserta.
-    Masing-masing peserta dapat menghafal nama dan beberapa identitas penting peserta lainnya.
-    Tertanamnya anggapan bahwa mereka adalah satu kesatuan (solidaritas) “bila satu sakit, yang lain akan ikut merasakannya”.
4. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Saat Ice Breaking
1.    Seorang pelatih haruslah mempunyai naluri (feeling) khusus yang kuat ketika melakukan proses ice breaking. Ia harus tahu saat peserta sudah lebur atau belum dan masih harus dileburkan. Ketika peserta belum lebur namun ice breaking sudah dihentikan, hal ini akan menyusahkan sewaktu penyajian materi berikutnya.
2.    Saat melakukan ice breaking, seorang pelatih harus sudah dapat mendeteksi, (minimal beberapa orang dari peserta sudah masuk dalam memorinya) tentang potensi awal, sikap, sifat dan “karakteristik special” seorang peserta.
3.    Waktu yang disediakan untuk melakukan ice breaking sangat kondisional, tergantung kepada tingkat keleburan peserta. Ada peserta yang mudah lebur dan ada yang sulit lebur, karena perbedaan pendidikan, latar belakang, dll yang sangat signifikan. Oleh karena itu seorang pelatih harus mempunyai beberapa “jurus simpanan” yang harus dikeluarkannya bila peserta sulit mengalami peleburan antara satu dengan yang lainnya.
4.    Menimbulkan kesan positif, seorang pelatih haruslah dipandang oleh peserta dalam pandangan yang positif, baik dari segi pendapat, sikap, sifat dan interaksinya dengan peserta, karena tidak menutup kemungkinan nanti seorang pelatih akan menjadi tempat “curhat” paling dipercaya bagi peserta yang mengalami persoalan-persoalan khusus.


C.     Orientasi
 1.   Pengertian
 Orientasi yang dimaksudkan disini adalah suatu proses pemberian pemahaman kepada peserta, tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan latihan yang sedang diadakan. Pada hakikatnya orientasi yang dilakukan pada saat pelatihan adalah berusaha menjawab tiga pertanyaan penting, yaitu :
a.      Sedang apa mereka (para peserta) dalam acara ini ?
b.      Apa yang mesti mereka lakukan ?
c.      Hal-hal apa saja yang akan mereka temui ?
2.     Tujuan
Adapun tujuan dilakukan orientasi ini adalah :
a.    Menghilangkan kebingungan peserta tentang apa yang sebenarnya mereka ikuti.
b.    Meluruskan motivasi awal mereka untuk mengikuti pelatihan tersebut
c.    Memberikan pemahaman tentang hal-hal apa saja yang mesti mereka lakukan selama mengikuti
       pelatihan tersebut
d.    Memberikan gambaran ringkas tentang hal-hal yang akan mereka temui selama mengikuti pelatihan
       (dengan tidak memberitahu hal-hal yang sangat rahasia/esensil).
e.    Memunculkan komitmen dan kesediaan mereka untuk mengikuti acara ini dari awal hingga akhir
       dengan   penuh perhatian dan kesadaran diri.
3.    Metode
 Metode yang dapat digunakan dalam melakukan orientasi adalah ceramah dan diskusi. Ceramah dimaksudkan untuk menjelaskan kepada seluruh peserta tentang :
a.    Apa sebenarnya pelatihan yang sedang berlangsung, tujuan, target, kedudukan panitia, tugas dan wewenang pelatih, organisasi pelatih, ruangan-ruangan yang ada di tempat diselenggarakannya pelatihan yang boleh dan tidak boleh peserta masuk ke dalamnya.
b.    Tugas-tugas terstruktur, resume, sistem penilaian peserta, aspek-aspek (ranah) penilaian, bobot penilaian, dispensasi izin dan kriteria lulus peserta.
c.    Seluruh hal-hal yang berkenaan dengan proses pelatihan (asal tidak hal-hal yang paling esensial dan rahasia dalam pelatihan tersebut)
   4.   Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Saat Orientasi
a.    Setiap peserta tentunya mempunyai motivasi masing-masing untuk mengikuti pelatihan, motivasi awal ini ada yang baik dan ada yang perlu diluruskan. Dalam orientasilah sebaiknya motivasi awal setiap peserta diluruskan dan diarahkan.
b.     Sewaktu melaksanakan orientasi, hendaklah diungkapkan dengan sejelas-jelasnya apa saja mengenai pelatihan yang akan mereka ikuti, layani setiap pertanyaan yang muncul dan jelaskan apa adanya, jangan memanipulasi keadaan.
c.     Waktu yang disediakan untuk orientasi tergantung kepada keadaan, namun untuk memudahkan ; jika peserta tidak meragukan lagi (tidak muncul lagi pertanyaan) saat itu orientasi dapat dinyatakan selesai.
d.    Waktu akan mengakhiri orientasi, semua peserta dapat diikat dengan satu komitmen yang disampaikan secara lisan satu persatu bahwa mereka siap dan bersedia menjadi peserta pelatihan tersebut. Jika ada yang tidak mau menyatakan komitmennya, sebaiknya peserta tersebut mengundurkan diri dari awal.
 

Contoh Ice Breaking Dalam Pelatihan dan Penyuluhan

Dalam suatu pemaparan materi oleh pembicara, kadang diselipkan sebuah selingan yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan isi materi yang disampaikan. Penyampaian selingan itu kadang diselingi oleh multimedia sehingga bisa lebih menarik. Selingan tersebut sering digunakan untuk merefresh kembali tenaga dan otak agar kembali fokus ke materi. Itulah kenapa sebagian besar orang menyebut selingan di tengah-tengah penyampaian materi disebut sebagai ice breaking.

Berikut adalah salah satu contoh ice breaking, yang mungkin bisa anda coba dalam penyuluhan atau pelatihan pertanian :

a. Waktu : 7 menit
b. Alat dan bahan : Lembar soal sebagaimana contoh di bawah
c. Aturan main : Mintalah siswa mengerjakan soal dengan cermat
Lembar Soal :Tes 7 menit
Baca dengan baik dan seksama seluruh pertanyaan di bawah ini SEBELUM mulai menjawab.
Waktumengerjakan soal 7 menit. Peserta yang paling cepat dan benar dalam menjawab akan mendapatkanpenghargaan.
Jawaban dituliskan di balik lembar soal.
1. Tuliskan nama di bagian kanan bawah
2. Tuliskan tanggal lahir di sebelah kiri atas dan beri lingkaran
3. Tuliskan alamat rumah di tengah kertas, tulis dengan HURUF BESAR
4. Tuliskan 2 nama guru yang favorit
5. Tuliskan mata pelajaran yang disenangi
6. Jika punya HP, tuliskan nomor HP
7. Tuliskan 3 makanan kesukaan
8. Bagaimana cara menyelesaikan kasus Bank Century yang sekarang menjadi sorotan? Cukup uraikandengan 4-5 kalimat.
9. Majulah ke depan kelas, teriakan dengan suara lantang : AKU SUKSES UN
10. Bukalah sepatu, taruhlah di dekat meja guru
11. Jika sudah selesai mengerjakan nomor 10, tuliskan cita-cita Anda di pojok kanan
12. Segera berdiri dan tepuk bahu kanan teman terdekat Anda lalu berikan senyuman terbaik!
13. Katakan: Teman, saya sudah selesai, mengapa kamu begitu lambat ada yang bisa saya bantu?
14. Sambil kembali ke tempat duduk teriakan dengan lantang: Yes-yes-yes akulah manusia tercepat !
15. Buatlah tanda tangan sebagus mungkin di tengah kertas, kumpulkan kertas jawaban di meja gurudan kembali ke tempat duduk dengan tenang
16. Teriakkan : SAYA SIGAP MENGERJAKAN SEGALA HAL!
17. Tepuk tangan 5 kali sebagai tanda telah menyelesaikan soal
18. Kerjakan hanya soal nomor 5, 7, 15
19. Tuliskan 4 nama teman akrab
20. Tuliskan 3 tokoh idola
Perwakilan siswa menyampaikan komentar atas permainan? Ulasan : kecepatan dalam mengerjakan soal ujian adalah satu hal yang penting, namun kecepatantanpa kehati-hatian, ketepatan dan ketelitian akan membawa kerugian.Dalam simulasi tes 7 menit tersebut, mayoritas siswa akan langsung mengerjakan soal tanpamemperhatikan instruksi yang diberikan, yaitu membaca seluruh soal terlebih dahulu sebelum

mengerjakan. Siswa yang teliti hanya akan mengerjakan soal nomor 5, 7 dan 15, sebagaiman instruksidalam nomor 18.
GAME 1: APA KABAR ?
Prosedur :
-         Sampaikan pada audience, buat kesepakatan diawal bila kita bertanya sesuatu maka audience harus menjawab dengan kata-kata yang disepakati.
-         Tanya kabar ini bisa bermacam-macam, missal:
o       Tanya : Bagaimana kabarnya pada pagi hari ini…!
o       Jawab: Alhamdulillah, luar biasa Allahu akbar…!

o       Tanya : How are you today?
o       Jawab: Excellent….! Atau Fantastic…!
-         Keterangan : kata-kata yang diucapkan bisa bervariasi, bisa dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan kita.

GAME 2 :
PERMAINAN KONSENTRASI

“IKUTI APA YANG SAYA KATAKAN”
Prosedur:
-         Pertama sampaikan peraturannya kepada audience. Setelah semuanya paham barulah dimulai. Kalau perlu berilah contoh/praktekan sekali saja:
-         Kata kunci kita pada permainan ini adalah instruksi : “Ikuti Apa Yang Saya Katakan”  peserta disuruh mengikuti kata-kata trainer. Trainer bisa memilih beberapa benda atau hewan untuk disebutkan, misalnya:
o       ayam-ayam, itik-itik, ayam itik itik ayam,(diulang-ulang sampai beberapa kali). Setelah cukup puas membuat peserta senang, katakan: ada berapa ayam? (biasanya peserta akan bingung dan terdiam di sini, kebanyakan dari mereka bahkan minta agar permainan diulang)
o       ikuti saja kemauan mereka, diulang  beberapa kali dengan tetap menyebutkan instruksi permainan ini. Mungkin akan keluar jawaban-jawaban berupa angka-angka, katakan bahwa semua jawaban salah…! Maka harus diulangi lagi. Setelah beberapa lama, biasanya audience akan sadar terhadap instruksinya, sehingga jawabannya pun akan benar. Karena yang disuruh bukan menghitung ayam atau itiknya, tapi untuk mengikuti yang dikatakan trainer.
-         Inti dari permainan ini adalah konsentrasi, aitu untuk  mengenali dan melaksanakan instruksi yang diberikan, bukan untuk menghitung jumlah ayam atau itik.

“TEBAK APA YANG SAYA KATAKAN”
Prosedur :
-         Sampaikan instruksi permainan ini: “tebak apa yang saya katakan”
-         Sanbil menunjukkan jempol, trainer mengucapkan ini ayam
-         Ketika menunjukkan telunjuk trainer mengucapkan  yang ini sapi
-         Kemudian ketika menunjukkan jari tengah trainer mengucapkan kalo yg ini kerbau.
-         Tanyakan kepada peserta sudah paham atau belum, praktekan sekali untuk mengetest kepahaman mereka, setelah dirasa paham, barulah trainer menjalankan aksinya.
-         Peserta diminta menebak apa yang trainer katakana, katakana seperti contoh diatas, setelah selesai, katakan” Kalo yang ini” tetapi kita menunjuk pada jari kelingking. Biasanya peserta akan bingung dan protes. Ulangi lagi dengan variasi lain. Sampai terjawab dengan benar.
-         Ketika peserta telah memahami instruksi diatas, maka ia akan mengikuti kata kunci tanpa memperhatikan jari mana yang kita tunjukkan. Jawaban yang benar adalah bila trainer menyebutkan “ini”, maka jawabannya adalah “ayam” dst, seperti dibawah ini:
Pertanyaan    Jawaban
ini    ayam
yang ini    sapi
kalo yang ini    kerbau
-         Nama hewan dan urutan bisa terserah trainer, jadi letak seru atau tidaknya permainan ini adalah bagaimana peserta bingung menjawab pertanyaan trainer kkarena tidak memperhatikan instruksi.

KETRAMPILAN PELATIH.

Untuk menjadi pelatih yang sukses, banyak sekali keterampilan praktis yang mesti anda kuasai. Website ini membantu anda mengenal lebih jauh keterampilan-keterampilan khusus yang mesti dikuasai oleh para pelatih

•    Bagaimana Menjadi Pelatih,
Pengantar sebelum anda terjun ke dunia pelatihan.
•    Ice Breaking dan Orientasi, 
Ketika memulai melaksanakan sebuah training (latihan) terlebih dahulu dimulai suatu segmen peleburan dan pendahuluan.
•    Teknik Bertanya dalam Pelatihan. 
Sesungguhnya keterampilan bertanya justru merupakan keterampilan yang sangat penting dan mutlak harus dikuasai oleh seorang pelatih.
•    Terapi Tingkah Laku, 
Terapi tingkah laku adalah suatu teknik yang menerapkan informasi-informasi ilmiah guna menemukan pemecahan masalah manusia.
•    Siklus Penyelenggaraan Pelatihan, 
Proses pelatihan dapat dipandang sebagai suatu sistem, sistem yang dimaksud dapat dipahami sebagai suatu siklus dengan pase-pase yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya.
•    Peran dan Tanggung Jawab Seorang Pelatih, 
Peran pelatih lebih ruwet dari seorang guru di muka kelas, simak peran dan tanggung jawabnya pelatih dalam bagian ini
•    Penampilan Seorang Pelatih, 
Penampilan tentunya merupakan faktor penentu awal dari ketertarikan peserta pada materi dan proses pelatihan.
•    Gaya Seorang Pelatih, 
Gaya pelatih ikut menentukan keberhasilan proses pelatihan, simak bagaimana gaya seorang pelatih ketika menyajikan materi
•    Pelatih Sebagai Pemandu,
Dalam memandu sebuah pelatihan, pelatih harus memahami kaidah-kaidah tertentu, sehingga pelaksanaan pelatihan berjalan sesuai target yang telah ditetapkan
•    Merancang dan Menggunakan Media, 
Peran media dalam proses pembelajaran adalah terjadinya percepatan pemahaman peserta pelatihan, dengan penggunaan media yang baik memungkinkan penggunaan lebih banyak pancaindera dengan demikian penyerapan bahan ajarpun menjadi lebih  cepat dan sempurna...

TEKNIK BERTANYA DALAM PELATIHAN


Saya tahu anda tidak tahu, saya kasih tahu
Anda tahu saya tidak tahu, anda kasih tahu
Saya tahu anda tahu, kita sama-sama tahu
Saya tidak tahu anda juga tidak tahu, sama-sama kita cari tahu

 

A.     Pendahuluan

            Kemampuan seorang pelatih untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam suatu kegiatan latihan, sepintas lalu nampaknya tidak penting. Padahal, sesungguhnya justru itulah keterampilan yang sangat penting dan mutlak harus dikuasai oleh seorang instruktur. Nalarnya jelas, karena hakekat dari fungsi dan peran seorang instruktur dalam konsep pelatihan orang dewasa adalah juga sebagai fasilitator.
Tidak jarang ditemukan dan ini merupakan kelemahan umum yang ditemui dalam banyak kegiatan latihan, proses belajar menjadi mandeg atau bahkan “salah arah” hanya karena instruktur mengajukan pertanyaan yang tidak tepat pada saat dan cara yang tidak tepat pula. Di kalangan banyak instruktur pemula, bahkan terlalu sering ditemukan mereka yang jadi bingun dan gerogi di depan kelas karena “kehabisan perbendaharaan kata-kata untuk bertanya”.
Dalam keadaan “panik dan bingung” seperti itu, biasanya mereka secara gampang saja langsung menyimpulkan pengalaman belajar para peserta, tentu saja menurut persepsinya sendiri, maka jadilan penilaian dan persepsi yang sangat subjektif.
Teknik bertanya dalam suatu kegiatan atau proses latihan, sebenarnya sederhana saja, yang terpenting adalah kesadaran untuk tetap taat asas pada prinsip latihan dan andragogi. Bahkan, tak ada salahnya bagi seorang instruktur untuk mengakui saja tidak tahu (atau berpura-pura tidak tahu) tentang suatu hal yang dipertanyakan oleh peserta dan melemparkan kembali pertanyaan tersebut untuk dijawab oleh peserta lainnya, demi memberi kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan pendapat dan pengalaman mereka sendiri. Ini yang prinsip.

B.     Hal-hal Teknis

1.   Usahakan agar pertanyaan diajukan secara singkat dan jelas, jika perlu ulangi sekali lagi atau dua kali sampai jelas benar, terutama jika pertanyaan itu ditujukan pada salah seorang peserta.
2.   Namun jangan sampai pertanyaan semacam itu justru menjadikan peserta “gelagapan” atau gugup menjawabnya, dan karenanya hindari pertanyaan tendensius dan gaya bertanya menghakini (pelatih bukan interogator) kecuali pada kasus-kasus pelanggaran norma dan tata tertib.
3.   Dalam meneruskan sebuah pertanyaan dari seorang peserta ke peserta lainnya, hindari jangan sampai terjadi antara peserta yang bersangkutan malah terjadi “perang tanding” (berdebat langsung di luar kendali instruktur).
4.   Jika perlu, pertanyaan dari seorang peserta dikembalikan kepadanya lagi dengan pertanyaan balik seperti : “menurut anda sendiri bagaimana ?” (agar ia sendiri mau berfikir dan tidak menganggap instruktur sebagai orang yang tidak tahu segalanya).
5.   Dan beberapa hal lainnya lagi yang hanya bisa difahami setelah mengalami sendiri bagaimana pemandu sebuah kegiatan latihan, sesuai kondisi dan situasi yang ada.

                Ada beberapa hal yang lebih teknis lagi sebagai pedoman, bentuk-bentuk atau jenis pertanyaan dasar yang paling sering digunakan dalam kegiatan latihan selama ini, antara lain sebagai berikut :

1.      Pertanyaan Ingatan
Dimana anda mengalami …………………………………..?”
Kapan hal itu terjadi ……………………………………….?”
Apakah hal semacam ini pernah terjadi pada anda ………..?”
Dengan mengalami ini, apakah bisa dikaitkan dengan
  pengalaman anda sebenarnya ……………………………...?”

2.      Pertanyaan Pengamatan
Apa yang sedang terjadi ?”
Apakah anda telah melihatnya ?”

3.      Pertanyaan Analitik (Urai Sebab-Akibat)
Mengapa perbedaan pendapat itu terjadi ?”
Bagaimana akibat kegiatan ini terhadap perilaku kelompok ?”

4.      Pertanyaan Hipotetik (Memancing Praduga)
Apa yang akan terjadi jika …………………………………..?”
Coba ramalkan apa akibatnya andaikata ……………………?”

5.      Pertanyaan Pembanding
Siapakah dalam hal ini yang benar ?”
Mana yang anda anggap paling tepat antara ……..dan …….?”

6.      Pertanyaan Proyektif (Mengungkap ke Depan)
Bayangkan jika anda menghadapi situasi seperti itu,
  apakah yang akan anda lakukan ?”

7.      Pertanyaan Tertutup (Menjurus ke Suatu Jawaban Tertentu)
Kita sebagai pelatih harus selalu melemparkan pertanyaan
  yang tidak menjurus, ya kan ?”

Seperti terlihat jelas pada contoh-contoh pertanyaan di atas, jelas sekali bahwa apapun bentuk atau jenis pertanyaannya, semuanya tetap bertolak dari “kata-kata kunci” pertanyaan yang peling pokok yaitu :

APA ……………………………?
   SIAPA ………………………….?
       DIMANA ………………………?
           KAPAN …………………………?
                BAGAIMANA …………………?
                     MENGAPA …………………….?

·          Kata-kata “apa”, “siapa”, “dimana”, dan “kapan” adalah kata tanya untuk mengungkapkan fakta.
·          Kata kunci “bagaimana” adalah kata tanya untuk mengungkapkan baik fakta maupun pendapat (opini).
·          Kata kunci “mengapa” adalah kata tanya untuk mengungkapkan pendapat. Atas dasar ini menjadi gampang jika ingin diterapkan dalam kegiatan latihan.
·          Kata-kata kunci “apa”, “siapa”, “dimana”, dan “kapan” lebih digunakan pada pertanyaan tahap mengungkapkan dalam proses daur belajar pengalaman berstruktur karena tahap ini memang bermaksud mengungkap apa yang “senyatanya terjadi atau dilakukan oleh peserta”.
·          Kata kunci “bagaimana” juga dapat digunakan pada proses ini dan proses menganalisa maupun menyimpulkan, tapi kata kunci “mengapa” lebih digunakan pada tahap menganalisa dan menyimpulkan saja, karena tahap ini memang sudah dimaksudkan untuk meminta pendapat peserta.
·          Dikaitkan dengan bentuk atau jenis pertanyaan tadi, dapat dikatakan bahwa jenis pertanyaan “ingatan” dan “pengamatan” lebih digunakan pada tahap mengungkapkan. Jenis pertanyaan “analitik”, “hipotetik”, dan “permbandingan”, lebih digunakan pada tahap menganalisa, sementara jenis pertanyaan “proyektif” lebih banyak digunakan pada tahap menyimpulkan. Adapun jenis pertanyaan “tertutup” lebih digunakan pada saat instruktur akan menegaskan kembali kesimpulan peserta di akhir kegiatan latihan.

BAGAIMANA MENJADI PELATIH

Sebuah Pengantar
 
A. Istilah-istilah untuk Pengelola Pelatihan


1.  Instruktur berasal dari kata instructor dengan asal kata instruction. Secara bebas maka kata itu dapat diartikan sebagai orang yang memiliki kekuasaan untuk memberikan instruksi (perintah). Instruktur disini harus didengar, dipatuhi dan dikuti. Istilah ini  lebih memiliki kesan otokrasi yang bernuansa top down. Istilah ini kerap kali digunakan pada lembaga dengan garis koordinatif yang kental, seperti TNI, namun paa beberapa lembaga istilah ini sudah mengalami pelamahan arti dari maksud yang disebutkan di atas.
2.  Pelatih berasal dari kata latih yang merupakan terjemahan dari kata Trainer. Secara sederhana kata ini dapat diartikan sebagai orang yang ikut serta secara partisipatif dengan aktifitas peserta pelatihan. Istilah pelatih lebih mencair dengan kondisi peserta, sehingga jarak antara peserta dan pelatih terkesan lebih akrab tanpa harus menghilangkan kredibilitas pelatih tersebut. Dengan suasana keakraban yang diciptakan, maka diharapkan materi yang disajikan selama pelatihan dapat diserap peserta dengan lebih baik.
3.  Fasilitator berasal dari kata facilitator  dengan asal kata facility. Secara sederhana istilah ini dapat diartikan sebagai orang yang memfasilitasi dalam setiap sesi pelatihan, ia seperti kaca pemantul yang akan memantulkan kembali kepada peserta lain hal-hal yang ditanyakan oleh seorang peserta pelatihan, fasilitator hanya menyimpulkan sekaligus menyempurnakan jawaban yang diberikan oleh peserta. Dalam penyajian materi fasilitator lebih dekat dengan metode diskusi, role play, dan games.
4.  Widyaiswara berasal dari bahasa Sangskerta Widya dan Iswara. Istilah ini sebenarnya hampir sama dengan pelatih atau fasilitator. Istilah ini dipergunakan pada lembaga pelatihan milik pemerintah.
              Sebenarnya masih banyak istilah lain yang dipakai berbagai lembaga sesuai dengan kebutuhan lembaga bersangkutan, Namun untuk menyatukan persepsi, maka dalam makalah ini kita gunakan istilah pelatih (trainer).
 
B. Hal-hal yang Harus Dikuasai Seorang Pelatih.
Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa pelatihan merupakan persoalan yang rumit dan untuk menjadi seorang pelatih tentunya harus memiliki kompetensi khusus, baik kemampuan konseptual (kognisi), kemampuan teknis (psikomotor) yang tak kalah pentingnya kemampuan moral (afektif). Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas kemampuan yang mesti dimiliki oleh seorang trainer.
 
1.  Kemampuan konseptual
          a. Pengetahuan tentang Psikologi
Melatih manusia bukan persoalan yang mudah, hal ini disebabkan karena perbedaan karakteristik manusia yang sangat beragam, sehingga dalam pelatihan diperlukan sekali pemahaman yang komprehensip terhadap peserta pelatihan, sehingga pelatihan yang diadakan akan mencapai tujuan yang dimaksud.
Pengetahuan psikologi yang mesti dikusai oleh seorang trainer adalah :
-     Psikologi perkembangan, karena dengan demikian, seorang trainer akan lebih mudah menerapkan metode dan alat pelatihan yang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta, sehingga pencapaian tujuan pelatihan akan lebih maksimal
-     Psikologi Pendidikan/belajar,
-     Psikologi Kepribadian,
-     Teknis Terapi tingkah laku
-     Dan sebagainya.
 
          b. Pengetahuan tentang prosedur pengajaran
Pengetahuan ini sangat penting bagi seorang pelatih, dengan mengetahui seluruh prosedur pengajaran pelatihanpun akan mencapai arah yang jelas, tidak monoton dan membosankan. Di antara prosedur pengajaran yang mesti dikusai seorang trainer adalah :
-      Pengetahuan mengenai ragam metode belajar,
-      Pengetahuan tentang manajemen kelas,
-      Pengetahuan tentang penyusunan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Pengalaman Belajar dan Indikator
-      Pengetahuan tentang Desain Instruksional,
 
          c. Pengetahuan tentang filsafat pendidikan
Mengetahui filsafat pendidikan akan sangat membantu dalam perumusan landasan suatu pelatihan, mulai dari analisis ontologi, epistimologi dan aksiologi pelatihan.
 
          d. Pengetahuan tentang materi yang disajikan
Hal yang paling pasti dikuasai seorang trainer adalah mengetahui materi ajar yang akan disajikannya, jika saja seorang trainer tidak mengetahui suatu materi ajar, maka jangan memandu materi bersangkutan.
 
2.   Kemampuan Teknis
           a. Kemampuan berkomunikasi,
           b. Kemampuan mendinamisasikan kelompok pelatihan,
           c. Kemampuan  mengorganisir bahan,
           d. Kemampuan memanfaatkan media pelatihan,
           e. Kemampuan mengkombinasikan metode pelatihan
           f.  Dan lain sebagainya.
 
3.   Kemampuan Moral
           a. Memiliki perilaku yang bersahaja,
           b. Memiliki komitmen moral yang tinggi,
           c. Menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan adat istiadat,
           d. Dan lain sebagainya.
 
E.     ALUR PROSES SUATU PELATIHAN
Yang dimaksud dengan alur proses di sini adalah, prosedur yang mesti dipenuhi seorang perencana pelatihan dalam menyelenggarakan suatu pelatihan. Adapun alur proses tersebut secara sistematis adalah :
1.  Identifikasi Kebutuhan
Sebelum suatu pelatihan diadakan, terlebih dahulu dilakukan proses identifikasi. Hal ini bertujuan agar pelatihan yang akan diadakan betul-betul menjadi minat konsumen pelatihan, sekaligus jika suatu pelatihan berbasis “Button up” penyelenggara tidak perlu mengkhawatirkan jumlah peserta yang akan mengikuti pelatihan dimaksud.
Identifikasi kebutuhan juga akan membuka peluang yang besar bagi penyelenggara untuk memikirkan lebih matang, tentang muatan apa yang mesti diberikan dalam pelatihan, tujuan apa yang mesti ditetapkan dan materi apa saja yang mesti disajikan.
 
2.  Perencanaan Pelatihan
Kegiatan penting sebelum melakukan sesuatu adalah perencanaan, dengan perencanaan yang rinci dan matang suatu pelatihan tidak terkesan sembarangan dan asal-asalan. Proses perencanaan ini meliputi ; perencanaan organisasi penyelenggara, perencanaan tim pengelola (trainer), perencanaan peserta (target group), perencanaan sarana dan parasana, perencanaan metode, alat bantu, media, evaluasi, transportasi, akomodasi, konsumsi dan segala tetek bengek pelatihan bersangkutan.
 
3.  Penyelenggaraan Pelatihan
Dalam penyelenggaraan suatu pelatihan, perlu diperhatikan konsistensi antara perencanaan yang sudah dibuat dan disepakati dengan pelaksanaan secara riil di lapangan, sering penyelenggara “lompat pagar” ketika sudah berhadapan dengan kenyataan pada hari “H” penyelenggaraan. Untuk itu perlu diingat perlu rencana-rencana alternatif yang disusun sejak awal. Dengan demikian “prerequsite” dan prosedur pelatihan tidak terlecehkan.
 
4.  Evaluasi Pelatihan
Proses evaluasi menempati posisi yang sangat penting dalam pelatihan, tidak ada satupun usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas pelatihan jika tidak disertai dengan langkah evaluasi. Evaluasi dalam pelatihan akan ikut pula menentukan arah pengembangan peserta selanjutnya. Evaluasi dalam pelatihan dapat dibagi menjadi :
1.   Evaluasi trainer terhadap peserta, yang pada akhirnya menentukan tingkat kelulusan dan arah pengembangan peserta selanjutnya (follow up),
2.   Evaluasi peserta terhadap trainer, evaluasi ini bertujuan untuk memantau sejauhmana seorang trainer berhasil dalam tugasnya, di samping itu evaluasi ini juga ikut menentukan kredibilitas seorang trainer.